Loading...
The Best Traffic Exchange

Memburu Jejak Loreng Jawa

Senin, 28 Mei 2012

Share On:
Rela dianggap gila untuk membuktikan auman loreng jawa kepada dunia. LORENG jawa atau harimau jawa (Panthera tigris sondaica) sudah diklaim punah oleh Conservation on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (Cites) pada pertemuan tahunan di Florida, Amerika.

Keputusan itu didasarkan pada penelitian Steidenstiker (1976) dan World Wildlife Fund (WWF) pada 1994. Terlebih, sejak 1938, tidak pernah lagi ditemukan foto loreng jawa. Namun, klaim itu dibantah Didik Raharyono. “Saya orang yang pertama kali membantahnya,” tuturnya dengan nada serius.

Mbah Didik, itulah panggilan karib lelaki kelahiran Desa Gabus, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, itu. Meski baru menginjak 42 tahun, Didik sudah dipanggil Mbah oleh masyarakat karena dianggap sebagai pawang harimau di Jawa.

Dalam perjumpaan dengan Media Indonesia di desa kelahirannya, Mbah Didik menceritakan perjalanannya selama 14 tahun untuk membuktikan bahwa harimau jawa belum punah.

Awalnya Didik tidak tertarik dengan harimau. Sebagai sarjana biologi, ia lebih suka mengamati tumbuh-tumbuhan yang ada di hutan. Namun pada 1997, setelah mengikuti pendidikan dari Taman Nasional Meru Betiri (TNMB), Jawa Timur, ia dibuat heran oleh sebuah presentasi yang mengungkap keberadaan harimau di Jawa.

“Ternyata masih banyak indikasi keberadaan harimau,” ujarnya. Pria lulusan Universitas Gadjah Mada itu berpendapat bahwa keberadaan satwa, khususnya harimau, tidak harus dilihat secara langsung.

"Keberadaan harimau bisa dilihat dari jejak, cakaran, dan cerita-cerita masyarakat. Bagi saya, itu bisa membuktikan harimau jawa masih ada.”

Mulai kumpulkan data
Pada 1997, Didik memulai 'perburuan' mencari jejak harimau jawa. Langkah pertama yang dilakukan pria berperawakan tinggi gempal dan berjenggot itu ialah mengumpulkan data.
Cerita masyarakat yang tidak digubris pemerintah dan lembaga penelitian ia gunakan sebagai data.

Namun, bukan sembarang cerita. Ia hanya mengambil informasi dari masyarakat yang langsung bersinggungan dengan hutan, seperti pencari madu, pemanen burung, pemburu kijang, pemburu babi hutan, dan pencari buah kemiri.

Masyarakat Jawa, kata Didik, tidak semua mengenal harimau jawa secara spesifik. Kebanyakan mereka hanya mengenal kucing besar itu sebagai macan.

Dengan begitu, ia perlu menyiapkan trik untuk menanyai warga yang mengaku bertemu harimau jawa di hutan. Didik biasanya akan menunjukkan dua foto dan meminta warga menunjuk hewan yang mirip dengan yang mereka jumpai.

Dari sana terlihat bahwa masyarakat kerap menyebut harimau jawa sebagai macan tutul. "Tutul tapi yang turih tempe, atau tempe yang dirajang-rajang dan bergaris-garis,” ujar Didik menirukan omongan warga.

Setelah mendapatkan informasi, Didik melakukan pengkajian kawasan hutan serta mengidentifikasi lokasi dan blok tempat keberadaan loreng jawa. Demi mendapatkan bukti, ia bisa tinggal dua minggu di dalam hutan.

Perjuangannya tidak sia-sia. Ia menemukan bukti meskipun hanya berbentuk cakaran, tapak, atau feses harimau.

Bukti-bukti itu sudah cukup meyakinkannya karena memiliki ciri-ciri yang sama persis dengan harimau jawa. Didik menjelaskan bahwa cakaran harimau jawa memiliki jarak antarkuku di atas 2 cm.

Ukuran tersebut jauh lebih besar bila dibandingkan dengan ukuran jarak antarkuku milik macan tutul jawa, yakni hanya sekitar 2 cm. Perbedaan serupa juga terdapat pada ukuran telapak dan feses. Jika telapak macan tutul hanya berkisar 10-11 cm, telapak harimau jawa bisa mencapai 13 cm. Selain itu, feses macan tutul hanya berdiameter 2 cm, sedangkan feses harimau jawa berdiameter 4 cm atau lebih.

Untuk menguatkan bukti, Didik kemudian akan berupaya memotret harimau jawa dengan kamera jebakan hasil pinjaman. Sayang, hingga saat ini ia baru berhasil mengabadikan macan tutul jawa.

Diejek gila
Meski Didik sudah mengumpulkan banyak bukti, banyak ornag menyangkal keyakinan Didik akan keberadaan harimau jawa. Pria yang sekarang tinggal di Cirebon, Jawa Barat, itu bahkan sering dianggap gila karena mencari harimau yang sudah punah.

“Banyak teman-teman saya menyebut saya orang gila dari Jogja, karena mencari hewan yang sudah punah,” ujar Didik yang pernah tinggal di Yogyakarta. Namun, cemoohan tidak membuatnya mundur. Didik justru terlecut untuk semakin banyak mengumpulkan bukti ilmiah.
Salah satunya ialah DNA dari kerangka harimau yang dibunuh pada 2009.

Saat ini tes DNA terhadap kerangka tersebut tengah dilakukan. Meski nantinya hasil tes menunjukkan kerangka bukan milik harimau jawa, Didik tidak akan menyerah. Ia akan terus menyelusup hutan untuk membuktikan keyakinannya.
ADVERTISMENT
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Jasa Buat Web Pangkalpinang | Tips Blogger | Special Thanks
Copyright © 2013. Saungjiwa Blog - All Rights Reserved
Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger